SURAT DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR S – 477/PJ.313/2001

Peraturan Pajak

SURAT DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR S – 477/PJ.313/2001

TENTANG

PERLAKUAN ATAS SELISIH KURS

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor : XXX tanggal 8 Agustus 2001 perihal sebagaimana pada pokok
surat di atas, dengan ini diberikan penjelasan sebagai berikut:

1. Dalam surat tersebut disampaikan hal-hal sebagai berikut:
a. PT. ABC bergerak dibidang asuransi dengan sumber utama penghasilan adalah premi yang
diterima dari tertanggung. Dana yang dikumpulkan dari premi dinvestasikan dalam bentuk
deposito dalam mata uang asing maupun rupiah.

b. Sehubungan dengan deposito dalam mata uang asing, terdapat 2 (dua) jenis penghasilan
yang berbeda, yaitu:
1) Bunga deposito (telah dipotong PPh final oleh bank)
2) Keuntungan/kerugian selisih kurs akibat fluktuasi mata uang asing terhadap pokok
deposito

c. Bunga atas deposito dalam valas telah dipotong PPh final oleh bank sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 51/1994. Akan tetapi, keuntungan/kerugian selisih kurs akibat fluktuasi
kurs atas jumlah pokok deposito dalam valas, tidak termasuk dalam jumlah bunga dan oleh
karena itu belum dikenakan PPh final

d. Sesuai dengan Pasal 4 ayat (1) huruf 1 UU Pajak Penghasilan, keuntungan karena selisih
kurs mata uang asing termasuk penghasilan yang menjadi objek PPh. Selanjutnya sesuai
dengan Pasal 6 ayat (1) huruf e, kerugian selisih kurs mata uang asing merupakan biaya
yang boleh dikurangkan. Di samping itu, PT. ABC menggunakan sistem pembukuan
berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia yang ditetapkan secara taat azas.

e. Sehubungan dengan selisih kurs yang timbul karena fluktuasi kurs atas pokok deposito
dalam valas, Saudara meminta penegasan sebagai berikut:
1) Apakah dalam hal terjadi kerugian selisih kurs akibat fluktuasi kurs, kerugian selisih
kurs tersebut dapat dikurangkan sebagai biaya mengingat bahwa kerugian selisih
kurs tidak ada kaitannya dengan bunga deposito yang telah dikenakan PPh final
2) Apakah keuntungan selisih kurs tersebut merupakan objek pajak

2. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf I Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 antara lain diatur
bahwa keuntungan selisih kurs mata uang asing termasuk penghasilan yang menjadi objek Pajak
Penghasilan dan pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib
Pajak secara taat azas.

3. Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf e Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 diatur bahwa
kerugian dari selisih kurs mata uang asing merupakan unsur pengurang penghasilan bruto.

4. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga
Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia, atas penghasilan berupa bunga
yang berasal dari deposito dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 20% (dua puluh
persen) dari jumlah bruto.

5. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-03/PJ.31/1997 tanggal 13 Agustus
1997 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Terhadap Selisih kurs antara lain ditegaskan hal-hal
sebagai berikut:
a. Kerugian selisih kurs, mata uang asing yang disebabkan oleh fluktuasi kurs, pembebanannya
dilakukan berdasarkan sistem pembukuan yang dianut, dan harus dilakukan secara taat
asas. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan:
1) Kurs tetap, pembebanan selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya realisasi
perkiraan mata uang asing tersebut.
2) Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun,
pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah bank
Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.
b. Kerugian yang terjadi karena selisih kurs, dapat diakui sebagai pengurang penghasilan
sepanjang Wajib Pajak tersebut mempunyai sistem pembukuan yang diselenggarakan secara
taat asas, sesuai dengan bukti dan keadaan yang sebenarnya, dan dalam rangka kegiatan
usahanya atau berkaitan dengan usahanya.

6. Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, dengan ini ditegaskan bahwa:
a. Kerugian selisih kurs yang melekat pada pokok simpanan deposito dapat dibebankan sebagai
pengurang penghasilan bruto sesuai Pasal 6 ayat (1) huruf e Undang-undang Pajak
Penghasilan.
b. Keuntungan selisih kurs yang melekat pada pokok simpanan deposito perlakuannya sesuai
dengan ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf I Undang-undang Pajak Penghasilan yakni
diperhitungkan dalam Penghasilan Kena Pajak yang dikenakan tarif sesuai Pasal 17 Undang-
undang Pajak Penghasilan dan didasarkan atas metode pembukuan yang dianut Wajib Pajak
secara taat azas.

Demikian untuk dimaklumi.

A.n. DIREKTUR JENDERAL
DIREKTUR,

ttd

IGN MAYUN WINANGUN

http://www.peraturanpajak.com
info@peraturanpajak.com
WA : 0812 932 70074

Iklan


Kategori:2001, Lainnya, Surat Direktur Jendral Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: